Hidup Sehat ga Susah Qo!!

Posted in Gaya hidup on November 17, 2007 by carribean

Hidup sehat ?…………….tidak susah koq!!
Gizi.net – Ada beberapa hal yang sering dilewatkan dalam menjalani hidup, sehingga akibat buruk dari kebiasaan ini akan datang mengganggu kesehatan kita. Hal ini bisa terjadi hanya karena kebiasaan hidup yang tidak teratur. Kebiasaan tersebut adalah antara lain melewatkan sarapan, kurang minum air putih, kurang gerak sampai dengan ngemil snack berkalori tinggi.

Menurut Pete Cohen, psikolog dan physical trainer, bahwa tidak ada manusia lahir dengan kebiasaan buruk. Kebiasaan ini dipelajari saat tumbuh dewasa. Cara yang paling jitu untuk membuang kebiasaan buruk adalah dengan menggantinya dengan kebiasaan yang lebih baik. Menurut beberapa penelitian, diperlukan pengulangan 20 – 30 kali untuk kemudian menjadi kebiasaan baru.

Apakah semudah itu ??, sepertinya mudah saja, tapi kalau dijalani mengapa sulit??, karena kita memang hidup dilingkungan yang sudah mengesahkan kebiasaan-kebiasaan buruk itu menjadi hal yang biasa.

Ada beberapa tips dibawah ini, mengenai cara menghargai hidup dengan menjalani hidup secara sehat dan teratur, yaitu:

1. Minum air putih secara cukup
Kenapa terjadi? tubuh manusia tidak akan memberi sinyal berupa rasa haus sampai tubuh benar-benar kekurangan air atau mengalami dehidrasi.
Mengapa air putih? karena dua per tiga tubuh kita terdiri dari air, maka air merupakan unsur terpenting bagi tubuh. Setiap hari kita kehilangan 1,5 liter air lewat kulit, paru-paru dan ginjal (berupa air kencing). Untuk itu kehilangan itu harus digantikan dengan jumlah yang cukup, sehingga tubuh akan terhindar dari kelelahan, sakit kepala, kulit kusam dan bad mood.

2. Sarapan pagi setiap hari
Kenapa terjadi? Alasan yang sering didengar adalah karena tidak cukup waktu untuk sarapan.
Mengapa sarapan? Kalau sarapan terlewatkan maka akan mempengaruhi produktivitas kerja. Untuk itu ‘dengarkan’ tubuh anda dengan melakukan sarapan sehat secara rutin setiap hari. Sarapan sehat adalah makanan ringan yang cukup gizi seperti segelas susu atau jus buah atau sarapan siap saji yang kaya gizi dan rendah lemak.

3. Makan siang yang bergizi
Kenapa terjadi? Karena biasanya kelebihan karbohidrat sering terjadi saat makan siang, atau kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung protein sebagau sumber energi.
Mengapa harus bergizi? Biasanya ngemil makanan tinggi kalori akan jadi pilihan utama apabila rasa lapar menyerang, seperti cokelat, keripik atau biskuit, yang banyak mengandung lemak, gula dan garam.
Untuk itu memilih makan siang yang bergizi adalah cara yang bijaksana untuk mengatasi rasa lapar. Cara yang bijaksana menurut Dr. Wendy Doyle, ahli diet, dengan cara menambah lauknya, makan sepotong buah atau segelas yoghurt.

4. Siasati makan malam
Kenapa terjadi? Biasanya setelah lelah seharian kerja, maka akan malas kalau harus mempersiapkan makan malam.
Mengapa disiasati? Karena biasanya bila tidak mempersiapkan makan malam maka fast food atau take-away food, yang pasti mengandung tinggi lemak dan garam. Cara mengatasinya??, makan sesuatu sebelum pulang kantor dan mengisi kulkas dengan bahan makanan yang lebih tahan lama simpan untuk keadaan darurat. Kalau terpaksa membeli makanan, lebih baik hindari makanan yang digoreng dan pikirkan makanan tersebut mengandung gizi, yang paling tidak, cukup.

sejarah PSSI

Posted in OlahRaga on November 17, 2007 by carribean

PSSI dibentuk pada tanggal 19 April 1930 di Yogyakarta. Sebagai organisasi olahraga yang dilahirkan di zaman penjajahan Belanda, kelahiran PSSI betapapun terkait dengan kegiatan politik menentang penjajahan. Jika meneliti dan menganalisa saat-saat sebelum, selama dan sesudah kelahirannya — sampai 5 tahun pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, jelas sekali bahwa PSSI lahir karena dibidani politisi bangsa yang, baik secara langsung maupun tidak, menentang penjajahan dengan strategi menyemai benih-benih nasionalisme di dada pemuda-pemuda Indonesia.

PSSI didirikan oleh seorang insinyur sipil bernama Soeratin Sosrosoegondo. Beliau menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman, pada tahun 1927 dan kembali ke tanah air pada tahun 1928. Ketika kembali, Soeratin bekerja pada sebuah perusahaan bangunan Belanda “Sizten en Lausada” yang berpusat di Yogyakarta. Disana ia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang duduk dalam jajaran petinggi petusahaan konstruksi yang besar itu. Akan tetapi, didorong oleh jiwa nasionalis yang tinggi, ia kemudian memutuskan untuk mundur dari perusahaan tersebut.

Setelah berhenti dari “Sizten en Lausada”, Soeratin lebih banyak aktif di bidang pergerakan dan, sebagai seorang pemuda yang gemar bermain sepakbola, ia menyadari sepenuhnya pentingnya untuk mengimplementasikan apa yang sudah diputuskan dalam pertemuan para pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 (Sumpah Pemuda). Soeratin melihat sepakbola sebagai wahana terbaik untuk menyemai nasionalisme di kalangan pemuda, sebagai tindakan menentang Belanda.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Soeratin mengadakan pertemuan dami pertemuan dengan tokoh-tokoh sepakbola di Solo, Yogyakarta dan Bandung. Pertemuan dilakukan dengan kontak pribadi menghindari sergapan Polisi Belanda (PID). Kemudian, ketika diadakannya pertemuan di hotel kecil Binnenhof di Jalan Kramat 17, Jakarta, dengan Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jakarta) dan pengurus lainnya, dimatangkanlah gagasan perlunya dibentuk sebuah organisasi sepakbola kebangsaan. Selanjutnya, dilakukan juga pematangan gagasan tersebut di Bandung, Yogya dan Solo yang dilakukan dengan tokoh pergerakan nasional seperti Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A. Hamid, dan Soekarno (red: bukan Bung Karno). Sementara dengan kota lainnya dilakukan kontak pribadi atau kurir seperti dengan Soediro di Magelang (Ketua Asosiasi Muda).

Kemudian pada tanggal 19 April 1930, berkumpullah wakil-wakil dari VIJ (Sjamsoedin – mahasiswa RHS); wakil Bandoengsche Indonesische Voetbal Bond (BIVB): Gatot; Persatuan Sepakbola Mataram (PSM) Yogyakarta: Daslam Hadiwasito, A. Hamid, M. Amir Notopratomo; Vortenlandsche Voetbal Bond (VVB) Solo: Soekarno; Madioensche Voetbal Bond (MVB): Kartodarmoedjo; Indonesische Voetbal Bond Magelang (IVBM): E.A. Mangindaan (saat itu masih menjadi siswa HKS/Sekolah Guru, juga sebagai kapten kesebelasan IVBM); Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) diwakili Pamoedji. Dari pertemuan ini maka lahirlah PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia). Nama PSSI ini diubah dalam kongres PSSI di Solo tahun 1930 menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, sekaligus menetapkan Ir. Soeratin sebagai Ketua Umum PSS

“Surfing “: Hobby Murah Penghasil Duit

Posted in OlahRaga on November 17, 2007 by carribean

Hobi Murah Penghasil DuitSurfing bisa jadi pilihan hobi menarik. Biaya sekolah ditanggung, dapat uang bulanan, bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis. Sayangnya, belum banyak yang tertarik untuk menjalani hobi ini.

Dion Pardamaian Wau dan Ribut Wahyudi, dua surfer muda di Bali yang baru lulus SMU Kuta Pura, Kuta, Bali, bisa mendapatkan uang saku dari sponsor paling tidak Rp 700 ribu per bulan. Bagaimana caranya? Sponsor, man. Dion saat ini terikat kontrak dengan Kuta Line, Bali Barrel Surf Shop, dan Bajak Laut Support. Setiap bulannya, dia dapat uang saku Rp 700 ribu dan pakaian (t-shirt, celana, topi) empat kali. Lalu tiap tahun, Dion boleh ganti papan empat kali. Biar ngiler, nih. Harga satu potong pakaian paling murah seratus lima puluh ribu perak. Lalu harga satu papan sekitar 500 dolar Amrik atau sama dengan 4 juta rupiah. Mau lebih ngiler? Dion rencananya akan ke Aussie Oktober nanti, lalu ke Jepang untuk mencoba ombak di dua negara tersebut. Gratis!

Cerita Ribut tak kalah asyik. Sejak 1998 lalu, cowok kelahiran 8 Juli 1984 itu terikat kontrak dengan Spyderbilt, salah satu produsen pakaian juga. Ribut mendapatkan duit bulanan Rp 850 ribu per bulan dan biaya sekolahnya ditanggung sponsor. Selain, tentu saja, pakaian. Untuk papan surfing, cowok berambut cepak ini rutin dapat dari Three O Three. Sebelum itu, Ribut juga terikat kontrak dengan Quality, produsen pakaian surfing, dan Climbone, produsen aksesori surfing. Asyiknya lagi, dari berselancar ini Ribut pernah dapat tiket gratis berangkat ke Australia dan Jepang.

Pastinya tidak mudah mendapatkan sponsor. Untuk mendapatkannya tergantung pada relasi sesama rider (bahasa lain dari surfer) dan prestasi. Ribut langsung mendapatkan sponsor ketika juara pertama dalam lomba surfing se-Bali pada 1998. Padahal itu keikutsertaannya yang pertama dalam lomba. Dia langsung dikontrak Spyderbilt hingga akhir 2003 nanti. Berbagai prestasi kemudian diraihnya dalam kejuaraan surfing. Beberapa di antaranya Juara IV pada Om Tour Volcom Indonesia-Jepang Surfing Contest (2000), Juara III pada Billabong Surfing Contest (2002), dan Juara I Three O Three Surf Board Contest di Jepang (2002).

Adapun Dion pernah tiga kali masuk final di Om Tour Volcom Indonesia-Jepang Surfing Contest, masuk final Grommet Surfing Contest, dan masuk sebagai 15 pemain pro junior terbaik versi Billabong. Makanya enggak usah heran kalau mereka dengan mudah mendapatkan sponsor. Memang jago, sih!

Awalnya ogah

Kehebatan mereka tidak datang dari langit. Malah, awalnya Ribut dan Dion mengaku ogah dengan olahraga air ini. Perkenalan pertama mereka dengan surfing terjadi 11 tahun lalu.

Dion kenal surfing dari orangtua angkatnya, I Ketut Menda. Oleh salah satu surfer profesional di Bali itu, Dion dibawa dari tempat asalnya di Pulau Nias, Sumatera Utara, ke Bali. Sampai di Bali, dia mulai belajar surfing di Pantai Kuta. Pantai tersohor di seantero jagat ini memang bagus untuk belajar surfing. Pertama, karena dasarnya yang pasir. Kedua, karena ombaknya tidak terlalu besar. Ketiga, karena lokasinya dekat. Dan, terakhir karena ada penjaga pantai. Jadi, kalau terseret ombak misalnya, akan ada yang menolong.

Sebulan pertama Dion mengaku tersiksa dengan latihan yang harus dijalani. Kepala pusing, kulit mengelupas, dan matanya perih karena sinar matahari dan air laut. Saking perihnya selalu mengeluarkan air dan pas sekolah tidak bisa baca. Rambutnya pun berubah pirang. “Teman-teman sekolah sering mengejek apa enaknya jadi surfer,” aku penggemar musik-musiknya Blink 182 ini.

Selama dua tahun, Dion belajar dengan didampingi bapak angkatnya. Tempat favoritnya di Half Way, sebuah point di Pantai Kuta. Point ini hingga saat ini jadi home break dan tempat favoritnya bersama Ribut. Kebetulan rumah mereka juga dekat Pantai Kuta.

Begitu sudah bisa surfing mereka jadi ketagihan. Tiada hari tanpa surfing. Ketika SMP, karena masuk sekolah pagi, pukul satu siang mereka baru nyebur ke pantai. Namun, begitu SMU, mereka bisa melakukannya sebelum sekolah lantaran jam masuk sekolahnya siang.

Setelah dianggap bisa, mereka dilepas pelatihnya masing-masing. Berbagai tempat di Bali pun dicoba. Pantai di Bali memang menyajikan banyak ombak yang bagus untuk surfing. “Secara keseluruhan, tidak ada tempat di mana pun di dunia yang ngalahin bagusnya ombak di Indonesia,” kata Piping yang sudah menjelajah berbagai pantai di Indonesia antara lain Nias dan Mentawai (Sumatera), Cimaja (Bandung Selatan), hingga Neumbrella (Nusa Tenggara Timur).

Di Bali sendiri bertebaran tempat yang asyik untuk surfing. Mulai dari Medewi, Canggu, Seminyak, Legian, Kuta, Serangan, Dreamland, Padang-padang, Uluwatu, dan banyak lagi. Masing-masing menyajikan tantangan ombak berbeda-beda. Bagi Ribut dan Dion, tempat favorit selain di Half Way, Kuta adalah di Canggu.

Modalnya papan dan pakaian

Surfing tergolong olahraga murah meriah. Kalau sekadar hobi, cukuplah papan surfing dan pakaian. Papan baru, kata Dion, bisa kita beli bekas dengan kondisi bagus. Harganya paling mahal satu juta perak. “Kalau teman sendiri bisa di bawah itu,” katanya serius. Selain itu, tinggal celana. Kalau mau yang khusus surfing harganya sekitar Rp 150 ribu. Tapi, celana biasa juga it’s ok.

Dion dan Ribut juga modal awalnya cuma itu. Tapi, lamalama mereka mulai menambah “daya keren” papan mereka dengan berbagai aksesori yang mereka dapat dari sponsor, seperti leg rope (tali kaki) dan grips (pijakan kaki). Harganya sih lumayan. Leg rope berkisar Rp 200 ribu sedangkan grips sekitar Rp 300 ribu.

Modal lain yang kelihatannya sepele, tapi mempengaruhi keputusan kita ikutan surfing adalah: takut kulit berubah warna. Padahal berubah warna kulit itu jadi enggak penting begitu kita merasakan nikmatnya berdiri di atas papan, naik turun ombak, bikin style, dan macam-macam lagi. Dion sampai mengaku lebih bisa mengikuti pelajaran di sekolah setelah surfing, “Kalau saya enggak surfing sehari saja, bisa stres.” Tak berbeda, Ribut bilang, “Surfing bisa me-refresh-ing otak kita dari kejenuhan sehari-hari.”

Hanya itu? Ada satu lagi yang lebih penting: keyakinan. Kenali surfing, lalu yakini. Sesuatu yang dilakukan dengan yakin, hasilnya akan luar biasa. Seperti yang sudah dialami oleh Dion dan Ribut. Sponsor, uang akan datang sendiri. Itu semua hanya akibat dari keyakinan dan kesungguhan kita.

Berani mencoba bercanda dengan ombak di atas papan? Silakan.

Arum jeram bukan olahraga maut

Posted in OlahRaga on November 17, 2007 by carribean
Berbagai kabar kecelakaan yang menelan korban jiwa dalam kegiatan olahraga arung jeram masih membayang dalam benak ketika muncul ajakan menjajal olahraga air yang dicap sebagai “olahraga maut” itu. Bayangan itu makin kuat manakala pemandu arung jeram di Sungai Citarik, Jawa Barat, menyampaikan briefing menjelang pengarungan sungai itu dimulai. Ketika aba-aba “Maju!” diteriakkan si pemandu, nyali terpaksa dikuat-kuatkan untuk mengusir bayangan menyeramkan itu.

Napas pun lega sesampai di garis finis. Ternyata olahraga mengarungi jeram-jeram sungai deras di atas perahu karet itu tak seseram yang dibayangkan. Bahkan muncul excitement yang tak terperikan nikmatnya untuk dirasakan. Pemandangan sekitar sungai yang berhulu di kaki Gunung Halimun dan jauh berbeda dengan suasana di kota itu pun menjadi kenikmatan lain. Alhasil, sayang kalau ajakan ikut merasakan sensasi berarung jeram itu ditolak.

Akibat kesalahan elementer
Tak mengherankan kalau kebanyakan orang serta merta menolak ajakan mengikuti kegiatan olahraga rafting ini. Sebab, ia sudah telanjur dicap sebagai olahraga “pembawa maut” menyusul berbagai event olahraga yang dipopulerkan di tanah air sejak 1970-an acap berakhir dengan timbulnya korban jiwa. Citarum Rally yang diselenggarakan kelompok pencinta alam dari Bandung, misalnya, berakhir dengan menelan tujuh korban jiwa, sekaligus!

Jangan panik menghadapai situasi seperti ini.Penyebab peristiwa tragis itu sangat elementer dan naif. Para peserta minim pengetahuan, pengalaman, dan peralatan penunjang. Minimnya pengetahuan tampak pada peserta yang mengikat tubuhnya pada perahu. “Begitu perahu terbalik, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Alhasil, seluruh penumpangnya meninggal,” ujar Lody Korua, direktur utama PT Lintas Jeram Nusantara, pengelola biro wisata arung jeram, Arus Liar, antara lain untuk Sungai Citarik, Jawa Barat. Ibarat orang yang baru belajar naik sepeda motor, tiba-tiba langsung ikut balapan, tanpa perlengkapan memadai lagi! “Kalau perlengkapannya memadai, paling-paling yang hancur motor dan perlengkapannya. Tapi ini, helm saja tidak pakai. Ya, wajar dong kalau timbul korban,” tambah pria mantan pengarung jeram profesional dari Mapala UI.

Reputasi olahraga arung jeram di tanah air langsung terpuruk dengan adanya peristiwa-peristiwa itu. Perkembangannya pun lalu tersendat-sendat. Berbagai izin perlombaan dipersulit, bahkan sempat dilarang.

Ketika pada 1980-an beberapa kelompok orang mencoba menghidupkan kembali kegiatan olahraga ini, korban masih saja berjatuhan, beruntun lagi! Penyebabnya sama, soal keterampilan dan peralatan. Atau, kesalahan menyiasati karakter sungai berjeram yang diarungi (baca pula Lain Jeram Lain Pengarungnya).

Masih belum “kapok” juga, sekitar awal dekade 1990-an, kata Lody, diselenggarakan Lomba Kali Progo II. Izin dari polisi maupun pemda setempat tak ada, tapi pihak berwenang juga tidak melarang. “Bikin saja, kita pura-pura tidak tahu,” demikian kata mereka. Lomba itu pun pada akhirnya menyisakan cerita tragis tentang meninggalnya empat orang: dua penonton dan dua peserta sewaktu latihan. Penonton yang tewas itu karena ikut-ikutan berarung jeram menggunakan ban dalam mobil!

Lembaran hitam masih terus membayangi kegiatan itu. Sebulan setelah peristiwa di Kali Progo, ekspedisi Sungai Mamberamo – gabungan Kopassus dan sebuah klub pecinta alam – menambah panjang daftar noktah hitam dunia arung jeram dengan meninggalnya tujuh anggota ekspedisi. Dua korban sempat ditemukan mayatnya, lainnya hilang.

Ketinggalan 10 tahun
Dari segi risikonya, arung jeram memang termasuk olahraga high risk. “Namun olahraga ini ‘kan sama saja dengan olahraga menantang maut lainnya, semisal terjun payung,” kata Lody. Jadi, kalau mau jujur, kesalahan bukan terletak pada olahraganya, tetapi manusianya! Apalagi, Lody mengakui, dunia arung jeram Indonesia sebenarnya terlambat 10 tahun dibandingkan dengan negara lain macam Amerika Serikat, misalnya. Selama itu tentu sudah banyak diterbitkan buku pintar soal arung jeram. “Tapi mungkin kendala bahasa membuat kita belajar sendiri,” ungkap lelaki berusia kepala empat ini.

Di AS rafting termasuk olahraga populer, dan bahkan laris dibisniskan. Di Colorado, misalnya, bisnis di bidang ini termasuk penyumbang terbesar pendapatan negara bagian itu. Bahkan, olahraga air ini sempat menggugah inspirasi sutradara Curtis Hanson untuk menjadikannya sebagai setting background dalam film River Wild yang dibintangi Meryl Streep. “Arung jeram bukan seperti sepeda gunung yang mengikuti trend saja,” kata suami Amalia Yunita ini.

Sementara arung jeram di beberapa negeri lain sudah begitu maju dan bahkan menyumbang devisa, di tanah air malah menghasilkan korban. Maka suatu ketika berkumpullah para pencinta dan pelaku arung jeram dari berbagai klub guna membentuk wadah organisasi yang kemudian diberi nama Federasi Arung Jeram Indonesia. Wadah ini mencoba menyatukan persepsi tentang seluk-beluk olahraga arung jeram di antara mereka.

Sebelumnya, menurut Lody, masing-masing klub memiliki pengertian dan persepsinya sendiri. Malah ada yang punya pandangan, penyebab kecelakaan itu gara-gara unsur supranatural. “Kalau ada korban di sungai anu, ada yang bilang, ‘Wah, sungainya angker!’ Aneh ‘kan itu?” cerita Lody sembari menambahkan, hingga saat ini sudah terbentuk delapan pengda (pengurus daerah).

Bersamaan dengan itu pada tahun 1992 bisnis arung jeram mulai menapak. Tapi sebenarnya, cikal bakal bisnis arung jeram sudah dimulai oleh Sobek International di penghujung dekade 1980-an. Ketika itu mereka menggarap jeram Sungai Alas di Aceh. (Sobek International yang bermarkas di Colorado, AS, terdiri dari sekumpulan rafter profesional yang melanglang buana mencari jeram potensial untuk dibisniskan. Setiap kali menemukan jeram potensial, mereka akan mendidik guide alias pemandu dari daerah sekitar sampai terampil sebelum mereka pergi mencari jeram baru di tempat lain.)

Mulanya, peminat arung jeram kebanyakan para ekspatriat dan wisatawan asing yang sudah mengenal lebih dulu olahraga itu di negeri asalnya. Para ekspatriat inilah yang mendorong Lody mulai membisniskan jeram. “Saya sudah memiliki dua perahu dan teman-teman warga asing di Jakarta itu siap membantu pendanaannya. Mereka juga yang meyakinkan saya, ketika saya pesimistis dengan bisnis ini,” cerita Lody, kelahiran Surabaya dan besar di ibukota. Namun lambat laun olahraga arung jeram memancing minat orang kita untuk mencoba.

Kunci selamat, aba-aba pemandu
Arung jeram sebenarnya perpaduan antara olahraga, rekreasi, petualangan, dan pendidikan. Unsur rekreasi terletak pada usaha mengatasi rasa takut. Selain itu, alam sekitar sungai juga menyuguhkan pemandangan yang lain dengan suasana keseharian bagi orang kota; suasana yang bisa menyegarkan pikiran yang sehari-hari sarat dengan rutinitas. Berbasah-basah ria sambil terpapar sinar matahari merupakan sensasi rekreatif lain yang jarang dialami dalam kehidupan sehari-hari.

Peminat arung jeram, apalagi yang baru pertama kali nyebur, rata-rata merasa gamang. Mereka was-was menghadapi kemungkinan terlempar dari perahu. Karena itu pengarung jeram dituntut selalu waspada untuk siap menerima situasi yang tak terduga. Inilah antara lain sifat kepetualangannya.

Unsur pendidikan terletak pada tuntutan kerja sama antarpenumpang perahu. Dalam arung jeram tak dikenal istilah penumpang VIP atau bukan VIP. Semua sama-sama menggunakan helm, memegang dayung, dan menggunakan pelampung. Semua harus tunduk pada aba-aba sang pengemudi alias pemandu yang duduk di belakang karena dialah yang bertanggung jawab atas keselamatan penumpang.

Tak mudah untuk bisa menjadi pemandu arung jeram. Dalam situasi ekstrem, ia dituntut mampu melajukan perahu tanpa bantuan penumpang lain. Arus Liar, misalnya, melatih para pemandu selama dua bulan untuk latihan dasar. Tapi itu pun tergantung kemampuan individu. “Ada yang selama delapan bulan masih menjalani pelatihan,” kata anak tunggal Wim Korua dan A.D.R. Rambitan itu. Selama itu mereka belum boleh membawa penumpang tapi hanya mengapungkan perahu rescue. “Dengan begitu mereka tahu daerah mana saja yang rawan dan bagaimana tindakan penyelamatannya,” tambah Lody.

Sebagai pemandu, mereka dituntut untuk menularkan ilmunya kepada peserta arung jeram dalam waktu sekitar seperempat jam. Langkah ini sangat menentukan sukses tidaknya pengarungan nantinya. Kepiawaian pemandu mengurangi rasa takut, menekankan pentingnya kerja sama, dan meminta partisipasi tenaga calon penumpang akan sangat membantunya, terutama ketika melewati jeram berbahaya.

Kunci keselamatan dalam berarung jeram hanya satu, ikuti instruksi pemandu. Aba-aba itu tidak banyak, maju, mundur, kiri, kanan, stop, dan boom. “Maju” atau “mundur” berarti mendayung perahu ke depan atau ke belakang. “Kiri” atau “kanan” artinya hanya penumpang sisi kiri atau sisi kanan perahu yang boleh mendayung. “Stop” memerintahkan seluruh penumpang berhenti mendayung dan dalam posisi siap, yakni dayung (padle) dipangku dan ujungnya dipegang dengan telapak tangan. Sedangkan boom itu aba-aba untuk menyuruh penumpang merunduk karena di depan ada alangan yang mengancam kepala penumpang.

Di luar itu, pengetahuan soal perilaku sungai amatlah penting. Apa yang ditulis oleh Raymond Bridge, salah seorang gembong arung jeram dunia, menyuratkan hal itu, “Hal paling penting menyelamatkan nyawa selama rafting adalah mengenali diri sendiri serta memperhatikan sesuatu yang belum diketahui. Sungai punya berbagai tipu daya … pelajari hal itu dengan seksama.”

Dari sebuah buku pintar rafting ada hal yang harus diingat selama berarung jeram, yakni RIDE: Read (membaca), Identify (mengenal), Decide (memutuskan), Execute (melaksanakan). Jadi, selama berjam-jam berarung jeram, setiap penumpang dituntut selalu waspada terhadap jalur pengarungan sambil mengenali medan di sekitarnya. Pada saat tertentu mereka harus menentukan tindakan sambil melaksanakannya, semisal aba-aba dari kapten (kapten merupakan istilah yang biasa dipakai dalam arung jeram profesional. Sedangkan dalam wisata arung jeram, kapten disebut pemandu).

Kejadian di Sungai Unda, Klungkung, Bali, awal 1996 bisa menjadi cermin, betapa petaka di sungai seperti pencuri yang datang tanpa permisi. Dua puluh delapan penumpang dalam enam perahu cerai-berai lantaran air deras tiba-tiba saja datang dari buritan. Tiga wisatawan asing asal Hongkong tewas dan sekurangnya empat wisatawan lainnya cedera. Petaka terjadi lantaran di daerah hulu sungai turun hujan deras. Padahal, cuaca di tempat mereka berarung jeram cukup cerah.

Dari mulut ke mulut
Saat ini sudah banyak perusahaan wisata arung jeram. Namun, menurut Lody, banyak pula yang sudah tinggal nama. Di Jakarta saja ada sekitar lima perusahaan antara lain Arus Liar, BJ’s Rafting, dan Cherokee. Mereka menggarap jeram-jeram sungai di Jawa Barat, seperti Sungai Cimandiri, Citarik, dan Cikandang. Sementara di Bali, bisnis jeram yang sudah sejak 1988 ada sekitar sembilan operator dengan daerah operasi Sungai Ayung dan Unda.

Tidak gampang memang membisniskan jeram. Tak bisa pula dipungkiri, arung jeram lebih berisiko dibandingkan dengan olahraga menantang maut lainnya, semisal bungy jumping. Perilaku alam menjadi tantangan yang harus dijinakkan. Untuk itu pengenalan karakter dan jeram sungai menjadi sangat vital dan bisa memakan waktu lama. Sobek Bina Utama di Bali, misalnya, menghabiskan waktu dua tahun untuk pengenalan dan uji coba sampai akhirnya bisa “menjual” jeram Sungai Ayung (27 km utara Denpasar) kepada wisatawan.

Peminat olahraga wisata arung jeram harus merogoh kocek relatif dalam. Sebagai gambaran, wisata arung jeram di Sungai Citarik, Sukabumi, misalnya, mereka harus membayar Rp 97.000,- per kepala untuk paket setengah hari (jarak tempuh 11 km), atau Rp 175.000,- per kepala untuk paket dua hari (23 km). Semua itu paket biaya di akhir pekan atau hari libur, sudah termasuk fasilitas perlengkapan arung jeram, pemandu, makan siang, minuman di perjalanan, transporatsi lokal, asuransi, dan sertifikat. Mahasiswa mendapat biaya khusus, kecuali hari libur. Satu perahu memuat minimal empat orang di luar pemandu.

Perlengkapan yang harus dibawa peserta berupa sandal gunung, T-shirt, celana, kacamata hitam, krim pelindung matahari, dan baju ganti.

Awalnya, pangsa pasar arung jeram adalah wisatawan asing. Itu sebabnya arung jeram di Bali sudah sejak lama bisa dijual.

Sedangkan bisnis arung jeram di sungai-sungai di Jawa Barat itu pada saat yang sama belum menjanjikan. Antara lain karena peminat arung jeram, yang sebagian besar warga Jakarta, baru bisa melakukan kegiatannya pada akhir pekan atau hari libur.

Namun, setelah pasar atau peminat mulai tumbuh – tidak terbatas warga asing – muncullah BJ’s Rafting yang mencoba mengelola bisnis arung jeram di Sungai Citarik setelah melakukan survai selama 1990 – 1993. Kegiatan arung jeram di sungai itu pun dulunya dilakukan oleh pencinta arung jeram yang sesekali melibatkan warga asing. Begitu pasar semakin tumbuh – lewat promosi dari mulut ke mulut atau brosur yang dibagikan ke berbagai perusahaan di sepanjang Jl. Thamrin dan Jl. Sudirman, Jakarta – bermunculanlah perusahaan wisata arung jeram. Salah satunya Arus Liar, yang merupakan “sempalan” dari BJ’s Rafting.

Sebenarnya banyak sungai berjeram di Indonesia yang berpotensi untuk dijual. Di Jawa Tengah, selain Sungai Progo, ada Sungai Serayu yang belum lama ini digunakan sebagai ajang lomba arung jeram. Di Lumajang, Jawa Timur, terdapat Sungai Ireng-ireng dan sudah mulai dilirik investor.

Puasa Berdampak Pada Kesehatan

Posted in Kesehatan on November 17, 2007 by carribean

Padahal, usia kita tidak terasa telah bertambah satu tahun dari Bulan Ramadan tahun kemarin. Walaupun hakikatnya, usia kita telah berkurang satu tahun. Kini, kita bertemu lagi dengan bulan yang penuh berkah, penuh keunggulan, keistimewaan, dan penuh dengan ampunan. Bulan yang di dalamnya terdapat satu malam kemuliaan, Lailatulqodar. Malam itu lebih baik dari seribu bulan (khoerun min alfisyahrin). Seperti ungkapan syair dalam bahasa Cirebon yang berbunyi, “kejemaken ati badan lan fikiran, luwih onjo tikel sewu ning ganjaran”.

Saking unggul dan istimewanya Bulan Suci Ramadan, seseorang yang berpuasa pada bulan itu karena iman dan berserah diri hanya kepada Allah SWT, niscaya akan mendapat ampunan terhadap dosa-dosa yang telah lalu. Sungguh luar biasa !

Secara etimologis, puasa atau saum artinya menahan diri dari sesuatu hal atau perkara. Sedangkan pengertian sederhana puasa menurut istilah Agama Islam adalah menahan diri dari kegiatan makan minum dan bercampur suami istri, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Diawali dengan niat yang ikhlas, taat, taqarrub kepada Allah SWT., dan hanya ingin mendapat ridaNya. Yang dalam syair Bahasa Cirebon disebutkan bahwa “hake siam ajar eling awit fajar, teka surup serngenge ya diganjar”.

Apabila puasa dilaksanakan dengan penuh kesungguhan, ikhlas, dan hanya ihtisab atau memasrahkan imbalannya hanya kepada Allah, ikhlas, niscaya akan berdampak pada kesehatan jasmani dan rohani yang mengamalkannya.

Sebagai ilustrasi, hikmah puasa terhadap kesehatan jasmani, antara lain dapat mengistirahatkan organ-organ pencernaan manusia. Pada hari-hari biasa atau ketika sedang tidak berpuasa, alat-alat pencernaan bekerja sesuai siklusnya dengan istirahat yang sangat sedikit, bahkan mungkin tidak sama sekali. Padahal sudah selayaknya alat-alat pencernaan itu diistirahatkan.

Ibarat sebuah pabrik, makanan yang kita makan diproses secara kimiawi dan mekanis. Dengan organ tubuh yang serba ajaib mampu melumatkan makanan menjadi suatu sajian yang siap diserap oleh tubuh. Bagaimana makanan diubah menjadi sebuah sajian seperti bubur nan halus, dengan tingkat keasaman tertentu. Selanjutnya, makanan yang telah halus, pada usus kecil diproses, disaring dan diserap menjadi darah, untuk selanjutnya siap diedarkan ke seluruh tubuh.

Menurut para pakar kesehatan, mengolah makanan yang masuk sampai siap untuk diedarkan ke seluruh tubuh, memakan waktu sekitar delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung, dan empat jam lagi di usus kecil. Luar biasa! Bukan waktu yang singkat! Dan itu terjadi terus menerus tiada henti.

Analisis sederhana dapat digambarkan bahwa dalam kondisi di luar Bulan Ramadan atau tidak puasa, sebut saja seseorang makan pagi (sarapan) pada sekitar pukul 06.30 WIB. Itu berarti, makanan akan lumat dan siap diedarkan ke seluruh tubuh delapan jam kemudian, atau persis pada sekitar pukul 14.30. Baru saja selesai memproses makanan sarapan pagi, telah datang makan siang yang biasanya pada sekitar pukul 12.00 atau 13.00. Belum lagi pada rentang waktu antara sarapan pagi sampai makan siang tersebut ada makanan cemilan (snack) yang perlu diproses. Maka sangat boleh jadi pelumatan makanan akan melebihi pukul 14.30. Makanan yang kita santap pada pukul 13.00, akan berakhir dicerna pada pukul 21.00 atau pukul sembilan malam. Maka, makanan yang disantap pada makan malam baru akan berakhir diproses pada pukul empat atau lima subuh. Belum lagi antara makan siang sampai makan malam, masuk makanan kecil (ngemil). Ketika kita bangun pada saat akan melaksanakan salat Subuh, kadang kita langsung minum. Maka proses pun menjadi tanpa putus selama sekitar 24 jam. Begitulah sibuknya alat-alat pencernaan kita. Dan, ini berjalan terus menerus sepanjang hayat.

Namun, lain lagi ceritanya ketika kita melaksanakan ibadah saum. Katakanlah makan Sahur seseorang selesai dilakukan pada sekitar pukul 04.00 menjelang terbit fajar, berarti delapan jam kemudian atau sekitar pukul 12.00, saat salat Duhur tiba, alat pencernaan telah selesai bekerja. Sejak saat itu, atau sekitar enam jam sampai menunggu datangnya makanan yang masuk pada saat berbuka puasa, alat-alat pencernaan mengalami istirahat. Ini berlangsung selama satu bulan dalam Bulan Ramadan.

Sama halnya dengan mesin pabrik, alat pencernaan pun perlu istirahat. Dapat dibayangkan betapa cepat aus dan rusaknya, manakala mesin pada sebuah pabrik setiap waktu berjalan terus menerus tanpa mengenal istirahat. Karena kita yakin, ciptaan Tuhan Allah di muka bumi ini (makhluk) memiliki keterbatasan kemampuan. Fana!

Dengan beristirahat, alat-alat pencernaan menjadi lebih giat dalam mereduksi dan menyerap makanan yang dikonsumsi. Dengan demikian, maka daya serap tubuh terhadap gizi akan semakin menguat. Hal itu sejalan dengan ilmu gizi, yang mengungkapkan bahwa konon pada umumnya orang hanya menyerap gizi sebanyak 35 persen dari gizi makanan yang dikonsumsi. Dengan berpuasa penyerapan gizi dapat mencapai 85 persen. Karena pelumatan makanan dapat berjalan dengan sempurna dari padat menjadi komponen yang sangat amat halus sekali.

Hikmah saum, selain berdampak terhadap kesehatan jasmani, juga sangat bermanfaat bagi kesehatan rohani. Dalam majalah Percikan Iman edisi Oktober 2003 terdapat sebuah tulisan berjudul “Shaum dan Kecerdasan”, tulisan itu menyebutkan bahwa sewaktu perut kenyang, banyak darah disalurkan untuk melakukan proses pencernaan. Sehingga mudah terserang kantuk, malas, letih, lesu, dan susah konsentrasi. Dengan demikian, kemampuan berpikir menjadi lemah ! Ketika seseorang menjalankan puasa, volume darah yang digunakan untuk pencernaan dikurangi, dan dipakai untuk kegiatan lain, terutama untuk melayani otak.

Kemasyhuran para ulama, cendekiawan atau para pengarang yang melahirkan karya-karya besar dan bermutu, justru pada Bulan Ramadan. Demikian juga halnya dengan tokoh politik yang berpuasa dalam tahanan sering membuahkan tulisan-tulisan yang sangat berharga seperti yang mulia tokoh spiritual yang juga Pemimpin Revolusi Iran Imam Ayatullah Rohullah Khomeini (almarhum), Buya Hamka (almarhum), dan masih banyak lagi yang lainnya.

Perkembangan terakhir dunia kedokteran jiwa mengungkapkan bahwa saum dapat meningkatkan derajat perasaan atau kecerdasan emosi seseorang, yang biasa disebut dengan istilah Emotional Quotient (EQ). Secara psikologis, manusia tidak cukup hanya diukur atau dinilai dari derajat kecerdasan otak atau Intelligent Quotient (IQ) saja, tetapi perlu diukur juga dari EQ-nya. EQ inilah yang sangat berpengaruh dalam pembentukan sifat-sifat atau kepribadian seseorang, seperti sifat santun, dermawan, sabar, rela berkorban, kasih sayang, kepedulian, dan sebangsanya. Sedangkan IQ berpengaruh pada percaya diri (self confident) dan meningkatnya daya ingat dan daya nalar seseorang.

Kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri ketika berpuasa , sangat erat kaitannya dengan meningkatnya EQ seseorang. Misalnya, pada siang bolong, panas terik matahari dan keringnya tenggorokan, serta perut keroncongan, mengapa air yang telah masuk ke mulut ketika kita berwudu untuk melakukan salat tidak diteguk ? Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui bila sepersekian dari air kumur itu ditelan untuk sekadar membasahi keringnya tenggorokan. Begitu juga terhadap makanan dan minuman serta istri yang tersedia di rumah. Mengapa kita tidak makan atau minum atau melakukan hubungan badani dengan istri walaupun itu halal ? Semua itu intinya adalah iman, yang berdampak pada kemampuan pengendalian diri seseorang. Itu merupakan arena pendidikan dan arena pelatihan untuk sabar, disiplin, empati, dermawan dan sebangsanya. Dan itu adalah EQ, yang dalam ungkapan syair Bahasa Cirebon dilukiskan bahwa “sareate siam nutup anggotane, wajib ngeker aja lali pangerane”.

Otak adalah titik sentral dalam tubuh untuk berpikir, belajar dan bekerja. Sesuatu yang dihasilkan oleh kecerdasan otak, secara empirik belum dapat dikatakan benar, sebelum dilengkapi dengan kecerdasan rohani atau budi pekerti. Kecakapan otak hanyalah sebatas objek yang nyata, yang dapat diraba dan disaksikan oleh panca indera lahir yang riil dan logis.

Itulah sebabnya, hikmah saum mengajarkan kepada kita bahwa saum dapat menyehatkan jasmani, membangun kepercayaan diri, dan menajamkan mata batin dan intuisi. Dan itu pulalah kiranya apa yang ditulis dalam firmanNya, tujuan perintah puasa atau saum itu adalah menjadi orang yang memiliki derajat takwa (la’allakum tattaquun).

Sebaliknya bila perut selalu penuh, maka seperti dikatakan Luqman Al-Hakim seorang ayah yang namanya diabadikan dalam Alquran pernah memberikan nasihat kepada putranya, “Wahai putraku, bila perutmu penuh, maka pikiranmu akan tidur, kebijaksanaanmu akan kelu, dan anggota tubuh akan malas menjalankan ibadah.”

Mungkin ada baiknya, bila menyambut datangnya Bulan Suci Ramadan tahun ini, mari kita luruskan niat, perbanyak amal, hindari hal-hal yang dapat mengurangi keutamaan ibadah saum. Semoga kita dapat menjalankan ibadah saum sebulan penuh, tanpa cela, cacat, dan sebangsanya. Ibadah saum senantiasa kita niati karena Allah. Bukan karena yang lain selain Allah. Sehingga tujuan luhur dan agung sebagai hamba yang muttaqin, yang dicita-citakan, dapat kita raih di kemudian hari.

Syarat – syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi Sehat

Posted in Kesehatan on November 17, 2007 by carribean

Tubuh manusia terdiri dari berjuta-juta sel yang untuk kelangsungan hidupnya memerlukan makanan, demikian pula ampas-ampas metabolisme (bersifat racun) harus segera dikeluarkan dari dalam sel.

Sel sel dari beberapa jaringan tubuh setelah jangka waktu tertentu mati dan ini harus diganti dengan sel baru untuk melanjutkan tugas sel yang telah mati. Bila jaringan tubuh melakukan kerja maka ia perlu energi, dan energi ini asalnya harus dari makanan. Makanan tadi haruslah sesuai mengenai jenis dan banyaknya dengan apa yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh.

Disamping air yang harus cukup, umum telah mengetahui istilah empat sehat lima sempurna, yaitu karbohidrat (nasi,ubi,jagung), protein (daging, ikan kedelai), sayur dan buah-buahan yang menjadi sumber vitamin dan mineral bila ditambah dengan satu gelas susu maka menu tadi menjadi sempurna.

Seperti yang dijelaskan tadi bahwa bagian-bagian makanan tadi haruslah sesuai dengan kebutuhan. Bila sakah satu kurang atau jumlahnya lebih ini akan mengakibatkan sakit. Bila sjumlahnya lebih untuk bagian makanan tertentu, hal ini juga akan menimbulkan sakit.

Saat ini dikenal penyakit kegemukan yang banyak menyusahkan penderita terutama wanita muda . Misalkan kekurangan zat besi, bisa menimbulkan anemi, kurang vitamin B1 menyebabkan penyakit beri-beri dan ganguan syaraf dan seterusnya.

Walaupun seoseorang melakukan senam untuk menghimpung tenaga dalam bila makanannya tidak memadai maka bukan kesehatan yang akan meningkat melainkan munculnya penyakit. Perlu dikemukakan disini bahwa jumlah air dalam tubuh harus cukup agar pengankutan makanan dan O2

kejaringan dan pengangkutan sisa-sisa metabolisme dari jaringan terlaksana dengan mudah.

Air yang diangap cukup kira-kira 3 sampai 4 liter perhari. Dengan cukupnya air maka pembuangan ampas-ampas metabolisme melalui keringat dan urine lancar sehingga badan terasa segar dan resiko terbentuknya batu dalam saluran urine menjadi kecil. Kekurangan yang berlansung lama mengenai zat-zat tertentu atau ampas-ampas metabolisme yang bertumpuk lama dalam tubuh, misalnya di dalam usus, bisa menimbulkan kanker.

Penyakit-penyakit karena kekurangan tadi tidak dapat diatasi dengan menambah tenaga dalam kepada penderita. Dalam hal ini bahan yang dibutuhkan tadilah yang dapat membantu jika zat yang kurang tadi telah diberikan.

Perimbangan antara kerja dan istirahat haruslah sesuai. Secara umum telah diterapkan lamanya jam kerja adalah 8 jam perhari . 7-8 jam untuk tidur dan jam sisanya untuk santai. Bila sel-sel tubuh melakukan kegiatan untuk jangka-jangka waktu tertentu, maka sel-sel tadi membutuhkan istirahat untuk menjalani perbaikan-perbaikan seperlunya. Bila sel-sel tadi dipacu terus menerus tanpa memberikan kesempatan untuk istirahat maka bisa terjadi bahwa ampas metabolisme (racun) tertimbun sehingga orang tadi merasa tidak nyaman lagi, pusing. Mual, dan sebagainya.

Peserta latihan S.N dapat meningkatkan kegiatannya misalnya 10-12 jam perhari tetapi tidak untuk selamanya. Emosi dan pikiran harus benar yaitu seseorang harus selalu berfikir mengenai kebaikan dan kebahagian, hal ini akan memberikan kesempatan pada pabrik-pabrik dalam tubuh untuk menghasilkan zat-zat yang diperlukan misalnya , antibody, enzim, hormon dan sebagainya.

Sebaliknya bila berada dalam keaadaan stress yang disebabkan karena selalu takut atau hal lain semacamnya, maka pabrik-pabrik dalam tubuh kita kerjanya menjadi kacau, jantung akan dipacu terus tekanan darah menjadi tinggi, sistem pencernaan dan saluran urine kacau.

Hubungan antar manusia yang benar, tidak suka bertengkar, tidak dendam dan mau menolong atau memaafkan orang lain. Selalu mohon petunjuk Yang Maha Kuasa agar dibimbing ke jalan yang benar.

Hidup Sehat ala Vegetarian

Posted in pola hidup sehat on November 17, 2007 by carribean

GAYA hidup veggie, atau yang dikenal dengan pola vegetarian bukan hal yang asing lagi terdengar di telinga kita. Bahkan menurut sejarah yang ada, sudah sejak zaman Kerajaan Sriwijaya gaya hidup seperti ini sudah ada.

DEMI alasan kesehatan pola vegetarian semakin banyak digemari kalangan masyarakat.*DUDI SUGANDI/”PR”

Perkembangan zaman, malah justru meningkatkan jumlah penganut pola makan non unsur hewani ini. Kini, pola vegetarian semakin banyak digemari kalangan masyarakat, mulai menengah ke atas hingga ke bawah. Berbagai alasan mereka lontarkan untuk menjelaskan mengapa pola hidup seperti itu yang mereka pilih.

Banyak orang yang enggan mengatakan dirinya sebagai vegetarian, meskipun pada kenyataannya mereka tidak memakan daging dan unsur hewani lainnya.

Jumlah penganut pola vegetarian hingga kini memang tidak bisa ditentukan dengan pasti, karena tidak ada sensus yang ditujukan untuk kepentingan tersebut. Akan tetapi, dipe rkirakan mencapai puluhan ribu orang di seluruh Indonesia menetapkan pilihannya dengan hanya memakan sayuran dan buah-buahan.

Bahkan kini sudah ada perkumpulan vegetarian, seperti Keluarga Vegetarian Maitreya Indonesia (KVMI).

Miranti Gutawa Sumapradja, M.Sc., ahli gizi, di Instalasi Gizi, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, mengatakan banyak jenis vegetarian. Ambil contoh dalam American Dietetic Association disebutkan, yang pertama lacto ovo vegetarian adalah individu dengan pola konsumsi makanannya mengandung biji-bijian, serealia, sayuran (termasuk umbi-umbian), buah-buahan, kacang-kacangan, susu, telur, dan produknya.

Kedua, lacto vegetarian, disebutkan Miranti, vegetarian jenis ini adalah sama dengan lacto ovo vegetarian, perbedaannya, lacto vegetarian tidak mengonsumsi telur.

Selanjutnya ketiga, ujar Miranti adalah tipe vegan atau vegetarian total, yakni vegetarian murni di mana individunya sama sekali tidak mengonsumsi unsur hewani dan semua produk hewani. Tipe ini adalah tipe vegetarian yang pada umumnya karena aliran kepercayaan.

Tubuh manusia memiliki kebutuhan akan zat-zat gizi yang mungkin tidak dimiliki tumbuhan. Apakah ini berarti mereka yang vegetarian tidak memiliki kecukupan gizi? Tentu tidak selamanya seperti itu. Diakui Miranti, memang kebutuhan zat gizi tidak selamanya berasal dari satu jenis bahan makanan saja, tetapi dari berbagai unsur bahan makanan. “Vegetarian yang tidak mengonsumsi hewani dan hasil olahannya memang akan kehilangan zat-zat gizi yang terdapat pada hewani tersebut,” kata Miranti.

Kandungan zat seperti protein, vitamin B12, kalsium, seng, Fe, dan asam amino essensial yang banyak dimiliki bahan makanan unsur hewani, mungkin tidak dapat terpenuhi oleh mereka yang vegetarian.

&nb sp;

Namun sebenarnya, kata Miranti, kekurangan tersebut dapat diatasi dengan mengkombinasikan beberapa bahan makanan yang mengandung zat-zat tersebut. “Kombinasi makanan bisa menyiasati masalah unsur-unsur gizi yang mungkin dibutuhkan tubuh,” kata Miranti menandaskan. Misalnya, protein dapat dipenuhi dari kentang, gandum, nasi, brokoli, bayam, tahu, atau tempe.

Meskipun vegetarian hanya bisa memakan protein nabati, namun mereka juga bisa memenuhi kebutuhan protein dengan lengkap melalui gabungan dan variasi makanan. Kita juga bisa memadukan dua jenis protein nabati untuk mendapatkan protein lengkap itu. Contohnya mengombinasikan roti plus selai kacang, nasi plus capcay, atau sereal dengan susu kedelai.

Sayuran berdaun berhijau

 

Kalsium merupakan unsur penting untuk kekuatan tulang dan gigi dan terdapat banyak pada sayuran berdaun hijau atau kacan g-kacangan. Mengonsumsi vitamin D juga akan sangat membantu dalam penyerapan kalsium. Sedangkan untuk pemenuhan vitamin dan mineral, sangat mudah untuk dipenuhi oleh makanan yang berasal dari sayuran dan buah-buahan.

Pada prinsipnya, lanjut Miranti, bagi vegetarian untuk menjaga kesehatannya harus tetap berpegang teguh pada menu seimbang. Menu seimbang dalam hal ini adalah menu yang terdiri dari bahan makanan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. “Dan jangan lupa serat!” ungkap Miranti.

Sebenarnya bila vegetarian ini direncanakan dengan menu makanan yang baik dan memenuhi kebutuhan energi serta zat gizinya, maka tidak akan menimbulkan risiko penyakit atau kekurangan zat gizi tertentu. Namun, kata Miranti, bila tidak terpenuhi kebutuhan gizi tubuh, maka tidak akan menutup kemungkinan akan menimbulkan risiko kekurangan zat gizi tertentu.

Biasanya vegetaria n kekurangan asupan protein, Fe, kalsium, seng, vitamin D, riboflavin, vitamin B1, yodium, dan asam lemak omega 3. “Sehingga risiko penyakit akibat kekurangan zat-zat itu rentan muncul,” tutur Miranti. Apa pun alasan mereka untuk memilih vegetarian yakni bisa karena keyakinan, kepercayaan, kesehatan, diet, dan sebagainya.

Telah diketahui banyak orang bahwa manfaat diet ini sangat besar. Bukan hanya untuk menghindari kegemukan, namun juga bisa mencegah penyakit-penyakit tertentu. Pada beberapa penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa seorang vegetarian umumnya mempunyai risiko indeks massa tubuh, kadar kolestrol darah, dan tekanan darah yang lebih rendah daripada nonvegetarian.

Hal ini memungkinkan risiko obesitas, penyakit jantung, hipertensi, stroke, dan diabetes lebih kecil. “Demikian juga risiko kanker prostat dan konon lebih kecil. Mengingat konsumsi antioksidan dan serat yang tinggi,” ungkap Miran ti.

Oleh karena itu, ditegaskan Miranti, orang yang diet vegetarian pada umumnya mengandung lemak jenuh dan kolestrol yang rendah. Akan tetapi, memiliki serat magnesium, kalium, folat, dan antioksidan seperti vitamin C dan E serta zat fitokimia yang tinggi. Sehingga mereka bisa menghindari beberapa risiko penyakit berbahaya.

Dijelaskan Miranti, fitokimia adalah zat atau substansi nongizi yang aktif secara biologis dan terkandung dalam tumbuhan secara alamiah, misalnya karotenoid pada wortel dan isoflavon pada kedelai. Untuk menjaga kesehatan, baik vegetarian ataupun nonvegetarian disarankan mengonsumsi makanan yang sesuai dengan energi yang dibutuhkan.

Untuk tetap menjaga stamina tubuh, Miranti memberikan tips diantaranya diupayakan pemenuhan kebutuhan zat gizi protein, lemak, vitamin, mineral sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu. Penuhi kebutuhan cairan yakni dengan minum 6 hingga 8 gelas per hari. Janga n lupa mengonsumsi serat sebanyak 25-35 gram perhari. Gunakan aneka bahan makanan yang bervariasi.

Dengan berbekal pengetahuan ini, Anda bisa mencoba untuk hidup sehat ala vegetarian. Siapa tahu dengan diet vegetarian ini, sakit Anda bisa disembuhkan, kegemukan yang Anda derita pun bisa disiasati. Jadi, selamat mencoba. (Ari Nursanti/”PR”)***

Hidup Sehat dengan menjaga pola makan

Posted in Kesehatan on November 17, 2007 by carribean

Para pekerja kantor yang biasa menghabiskan waktunya di dalam ruangan ber AC, tidak perlu lagi kuatir akan hal tersebut. Bahkan saat ini penyejuk ruangan juga berfungsi sebagai alat yang mampu menonaktifkan wabah flu burung seperti yang dimiliki oleh AC merek LG. Bukan hanya tidak menimbulkan penyakit, namun bisa menghindarkan penggunanya dari penyakit.

Prilaku dan pola hidup merupakan faktor utama dalam menjaga kesehatan. ”Kami dari kalangan kedokteran menghimbau agar pengaruh lingkungan seperti gaya hidup yang mengkonsumsi makanan cepat saji lebih baik dikurangi, untuk menghindari obesitas atau kegemukan,” papar dr. Sidartawan Soegondo dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada seminar yang diadakan untuk menyambut Hari Diabetes Nasional,12 Juli 2007 di Jakarta. Seminar tersebut diadakan oleh Nutrisi Kesehatan Diabetasol.

Menurutnya, makanan cepat saji memang membuat segalanya lebih mudah. Namun, bahaya kolesterol siap mengancam jika makanan saji menjadi santapan rutin. ”Untuk itu kami menghimbau untuk kalangan pekerja kantor di kota-kota besar untuk segera mengatur pola makan seimbang, karena setiap 10 detik satu orang meninggal dunia karena komplikasi diabetes,”

Food Combining

Posted in pola hidup sehat on November 17, 2007 by carribean

Di Indonesia, FOOD COMBINING pertama kali diperkenalkan dan dipopulerkan oleh Ibu ANDANG GUNAWAN, ND, seorang nutrition therapist dan Pemimpin Redaksi Majalah Hidup Sehat Alami NIRMALA. Beliau juga penulis buku best seller (cetak ulang lebih 10 kali sejak terbit pertama kali pada 1999) *Food Combining: Kombinasi Makanan Serasi, Pola Makan untuk Langsing & Sehat*.

FOOD COMBINING bukan obat, tapi merupakan pola makan sehat alami yang mendukung seluruh organ tubuh kita dapat bekerja dengan baik, sehingga kesehatan kita terjaga. Kondisi ini membuat kita tampil lebih muda dan segar, dengan emosi yang terjaga dan mudah merasa bahagia.

Selain itu, penyakit-penyakit yang mungkin ada dalam tubuh kita, terutama penyakit akibat gangguan metabolisme, dapat teratasi. Seperti kegemukan, kekurusan, alergi/asma, gangguan lambung (maag), gangguan asam urat, kencing manis, hipertensi, hiperkolesterol/hipertrigliserida, stroke, penyakit jantung, tumor/kanker, gangguan emosional (stres, depresi, hiperaktif, keranjingan makanan, dll.).

Matematika, Musik dan Kecerdasan

Posted in kecerdasan berpikir on November 17, 2007 by carribean

Berdasarkan pengamatan pada sejumlah anak, para peneliti dari Universitas California menyimpulkan bahwa belajar musik pada usia dini dapat meningkatkan kecerdasan (baca: kemampuan bernalar dan berpikir) dalam jangka panjang. Hasil penelitian ini begitu menarik perhatian sehingga buku The Mozart Effect karangan Don Campbell (1997), majalah Intisari (Februari 1997), harian London Sunday Times (Oktober 1997), dan terakhir majalah D & R (No. 12/XXIX/8, November 1997) merasa tergugah untuk menginformasikan kepada masyarakat.
Hasil penelitian tersebut memang pantas untuk disimak, walaupun seperti dikemukakan oleh musisi Suka Hardjana kepada majalah D & R bahwa hal itu sebenarnya sudah lama diketahui orang. Melalui tulisan ini, izikanlah saya untuk menyampaikan pandangan saya mengenai hasil penelitian tersebut dan mengaitkannya dengan peranan matematika dalam meningkatkan kecerdasan seseorang.
Hal pertama yang menarik untuk dicatat adalah bahwa hasil penelitian tersebut diperoleh secara objektif oleh Gordon Shaw dkk yang notabene adalah fisikawan, bukan oleh para musisi. Bila seorang musisi yang menyatakan bahwa musik itu perlu dipelajari karena bisa meningkatkan kecerdasan, orang mungkin tidak akan percaya begitu saja, karena pernyataan tersebut dapat dinilai subjektif.
Demikian pula halnya bila seorang matematikawan mengatakan bahwa matematika itu penting dan karenanya perlu dipelajari, orang mungkin akan bereaksi, “O, ya?” dengan nada tidak percaya. Namun ketika seorang musisi seperti Suka Hardjana menyatakan bahwa seseorang yang bermain musik sesungguhnya sedang bermatematika dan seluruh susunan syaraf otaknya bekerja, Anda baru sadar bahwa matematika (setidaknya melalui musik) melatih otak kita bernalar dan berpikir, dan pada akhirnya dapat meningkatkan kecerdasan.
Matematika dan musik memang sudah “bersaudara” sejak zaman Yunani Kuno. Pythagoras (580-500 SM) seorang filsuf dan matematikawan terkenal pada zaman Yunani Kuno bersama para muridnya menemukan bahwa harmoni dalam musik berkorespondensi dengan perbandingan dua buah bilangan bulat. Bila kita mempunyai dua utas kawat yang diregangkan dengan ketegangan yang sama, maka perbandingan panjang kedua utas kawat tadi mestilah 2: 1 untuk menghasilkan nada keenam (not yang sama pada oktaf berikutnya); 3: 2 untuk nada kelima, dan 4: 3 untuk nada keempat.
Sebagaimana dikemukan oleh Aristoteles (384-322 SM), Pythagoras dan para muridnya mempercayai bahwa alam semesta ini dipenuhi oleh interval musik dan sehubungan dengan itu mereka juga mempercayai bahwa all is number. Bagi mereka, perbandingan dasar dalam musik yang terdiri atas bilangan 1, 2, 3, 4, yang berjumlah 10 (yang merupakan basis sistem bilangan yang kita pakai sekarang), adalah suci, dan musik serta teorinya merupakan salah satu dari empat kategori dalam sains: aritmatika, geometri, musik, dan astronomi. Pada masa Plato (guru Aristoteles), matematika dan musik tidak hanya menjadi kriteria bagi orang cerdas tetapi juga bagi orang terdidik.
Satu hal yang menarik dan penting untuk dicatat mengenai kehidupan Pythagoras dan para muridnya pada zaman itu ialah kehausan mereka untuk mempelajari matematika dan filsafat sebagai basis moral. Pythagoras sendiri diyakini telah mengawinkan kedua kata tersebut: filsafat (love of wisdom) dan matematika (that which is learned). Pythagoras jugalah orangnya yang telah mentransformasikan matematika menjadi suatu bentuk pendidikan yang liberal.
Pada abad pertengahan dan zaman Renaisance, matematika dan musik kembali mendapat tempat yang terhormat di sekolah-sekolah di Eropa. Pada masa itu, aritmatika, geometrika, musik, astronomi, tata bahasa, dialektika (logika), dan retorika merupakan the seven liberal arts. Namun semua itu kini tinggal sejarah, lain dulu lain sekarang.
Musik, walaupun demikian, masih dapat dikatakan bernasib baik bila dibandingkan dengan matematika. Setidaknya orang hampir tidak pernah bertanya, “Apa gunanya musik?” setelah ia mendengarkan Mozart, misalnya. Matematika, sementara itu, lebih sering dianggap sebagai momok, dan orang pun semakin sering bertanya, “Apa gunanya matematika?”
Di negara kita, situasinya lebih parah lagi; di samping apresiasi masyarakat terhadap matematika masih sangat rendah, pengajaran matematika di sekolah pun masih bermasalah. Padahal, pada zaman yang semakin bergantung kepada teknologi menyongsong era globalisasi, bagaimana kita dapat bersaing apabila kita tidak menguasai teknologi? Bagaimana kita dapat menciptakan teknologi sendiri apabila kita tidak cukup menguasai matematika dan sains, yang notabene merupakan cara bernalar dan berpikir serta bahasa untuk memahami alam semesta ini?
Kunci jawaban untuk semua pertanyaan ini jelas ada di sekolah. Suka Hardjana secara tegas mengatakan bahwa kurikulum pendidikan musik di negara kita harus diperbaiki, bahkan bila mungkin diubah total. Menurutnya, pendidikan musik itu bukan hanya belajar bernyanyi. Bila hanya dipakai sebagai hiburan, musik bukannya mempercerdas tetapi malah dapat memperbodoh kita.
Seiring dengan itu, kurikulum matematika SD, SLTP, dan SLTA, yang selama ini sering dikeluhkan oleh para orang tua murid dan juga guru di lapangan, tentunya perlu pula ditinjau kembali dan dibenahi. Matematika bukan sekedar berhitung secara mekanis dan prosedural (menggunakan otak kiri), tetapi juga bernalar dan berpikir secara kreatif dan inovatif dalam upaya memecahkan berbagai masalah dan membuat segala sesuatu lebih baik (menggunakan otak kanan).
Kurikulum yang terlalu berat ke fungsi otak kiri dan mematikan kreatifitas dan daya inovasi murid, dan karenanya sulit diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan mereka. Demi meningkatkan kemampuan berpikir siswa, keseimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan perlu mendapat perhatian yang serius dalam penyusunan kurikulum matematika (dan juga mata pelajaran lainnya) pada masa yang akan datang.